USAID DEC
Penggunaan lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit telah meningkat seiring dengan meningkatnya kebutuhan perluasan areal kelapa sawit.
2016 · 8 pages

Abstract
Pada tahun 2013, total luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia mencapai 9.074.621 Ha, dengan 1,709 juta ha yang tersebar di Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Perkebunan kelapa sawit di lahan gambut Kalimantan Barat pada tahun 2013 mencapai 307.081 ha. Respirasi tanah merupakan kombinasi dari respirasi autotrof (respirasi akar) dan respirasi heterotrof (dekomposisi gambut). Aktivitas respirasi akar berperan besar dalam respirasi tanah, dengan total respirasi tanah yang dipengaruhi oleh perakaran tanaman, beragam dari 10 hingga 90%. Emisi CO2 yang berasal dari respirasi akar diimbangi oleh proses fotosintesis, sedangkan emisi CO2 yang berasal dari dekomposisi gambut berkontribusi terhadap peningkatan gas rumah kaca. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur dan mempelajari emisi CO2 autotrof dan heterotrof, yang berasal dari rizosfer dan non-rizosfer tanaman kelapa sawit yang ditanam pada lahan gambut dangkal. Lokasi penelitian terletak di Desa Rasau Jaya Umum, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Januari sampai bulan Mei 2015, dengan pengukuran emisi CO2 menggunakan metode sungkup dengan alat Infrared Gas Analyser (EGM-4). Pengukuran emisi CO2 dilakukan pada dua titik pengamatan, yaitu rizosfer dan non-rizosfer. Titik pengamatan rizosfer ditempatkan di atas "perakaran" perakaran, dengan jarak 100 cm dari batang tanaman, sedangkan titik pengamatan non-rizosfer ditempatkan di atas gambut yang telah dibersihkan dari akar-akar hidup tanaman. Jarak sungkup untuk pengukuran emisi non-rizosfer sejauh 4,5 meter dari batang tanaman. Pengambilan sampel tanah dilakukan pada kedalaman 5-25 cm untuk pengamatan sifat fisik gambut, dan pada kedalaman 0-30 cm untuk pengamatan sifat kimia gambut. Beberapa sifat fisik dan kimia gambut yang dianalisis meliputi pH, kandungan air, kandungan bahan organik, dan kandungan nitrogen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa emisi CO2 dari rizosfer lebih tinggi dan berbeda sangat nyata dibandingkan emisi non-rizosfer. Besaran emisi rizosfer dan non-rizosfer diperkirakan sebesar 0,93 dan 0,44 g m-2 hr-1. Emisi bertambah besar dengan makin dalamnya muka air tanah, menunjukkan ada korelasi positif antara emisi CO2 dengan kedalaman muka air tanah. Pengukuran emisi CO2 juga menunjukkan bahwa emisi CO2 dari rizosfer lebih tinggi pada jarak 1 meter dari batang tanaman, di mana kerapatan akar tersier dan kuarter sangat tinggi. Hasil penelitian ini dapat membantu menyediakan data dasar berupa emisi CO2 di rizosfer dan non-rizosfer dari perkebunan kelapa sawit pada lahan gambut atau yang berbasis lahan dalam rencana aksi daerah penurunan emisi gas rumah kaca (RAD-GRK) Provinsi Kalimantan Barat.
Connected topics
Classification
USAID DEC