Pengembangan Model Perencanaan Evakuasi Tsunami untuk Penentuan Jumlah dan Lokasi TES (Tempat Evakuasi Sementara) dengan Modifikasi Program ESCAPE
Sign inUSAID DEC
Aglomerasi dalam konteks Strategi Pengurangan Resiko Bencana (PRB) merupakan strategi yang bertujuan melindungi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dan hasil pembangunan dengan pendekatan kewilayahan.
2016 · 2 pages

Abstract
Dalam konteks ini, penelitian yang dilakukan oleh Harkunti Pertiwi Rahayu dan Kamelia Octaviani pada tahun 2016 bertujuan untuk mengembangkan model perencanaan evakuasi tsunami untuk penentuan jumlah dan lokasi Tempat Evakuasi Sementara (TES) dengan modifikasi program ESCAPE. Wilayah Pesisir Sumatera Barat memiliki tingkat kerawanan yang sangat tinggi terhadap bahaya tsunami, terutama Kota Pariaman yang terletak di tepi Pantai Barat Sumatera dan berjarak 56 km dari Kota Padang. Berdasarkan hasil penelitian pendahuluan, perencanaan evakuasi tsunami belum dilakukan dengan optimal dan belum menggunakan pendekatan ilmiah. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan memperbaiki rencana evakuasi tsunami di Kota Pariaman. Penelitian ini menggunakan lokasi Kecamatan Pariaman Tengah sebagai lokasi penelitian, karena memiliki tingkat kepadatan penduduk yang sangat tinggi dan terdapat 4 Kelurahan yang berada di tepi pantai. Penelitian dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif, dengan sebar kuesioner kepada masyarakat dan wawancara kepada aktor yang terlibat atau mengetahui waktu reaksi masyarakat pada saat terjadi gempa Tahun 2009. Selain itu, penelitian kuantitatif dilakukan melalui merancang model evakuasi tsunami berdasarkan program simulasi utama, program simulasi rute evakuasi, dan program simulasi shelter. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, digunakan 2 skenario yaitu Skenario dari Pemerintah dan Skenario Usulan. Untuk Skenario Rencana Lokasi Shelter Pemerintah menggunakan 9 lokasi, diperoleh status kemampuan respon yang lemah (weak response capability) untuk semua lokasi dengan menggunakan waktu reaksi masyarakat (RT) minimum 7 menit dan maksimum 30 menit dan waktu tanda peringatan dini secara natural dan dari Pemerintah (TONW) sebesar 20 menit. Namun, jika kapasitas Pemerintah dan Masyarakat dalam menghadapi ancaman tsunami dinaikkan 100%, maka waktu reaksi masyarakat minimum sebesar 0,5 menit dan maksimal sebesar 15 menit, dengan waktu tanda peringatan dini (TONW) sebesar 10 menit, maka diperoleh 2 lokasi shelter yang aman dengan status kemampuan respon yang baik (good response capability) di exit point 2 (Kelurahan Cimparuh) dan exit point 11 (Kelurahan Jalan Baru). Luaran dan rekomendasi dalam pemodelan Perencanaan Evakuasi Tsunami adalah jumlah TES Tempat Evakuasi Sementara yang secara optimal dibutuhkan di tiap kelurahan dan waktu untuk mengevakuasi seluruh kawasan. Dengan demikian, penelitian ini dapat memberikan kontribusi pada strategi pengurangan resiko bencana di Kota Pariaman dan dapat digunakan sebagai acuan untuk perencanaan evakuasi tsunami di daerah lain yang memiliki tingkat kerawanan yang sama.
Connected topics
Classification
USAID DEC