Identifikasi Struktur Geologi dan Pengaruhnya Terhadap Suhu Permukaan Tanah Berdasarkan Data Landsat 8 Di Lapangan Panasbumi Blawan
Sign inUSAID DEC
Daerah penelitian yaitu Kompleks Ijen berada di Jawa Timur.
2016 · 12 pages

Abstract
Kompleks Ijen secara morfologi ditandai oleh kaldera Kendeng yang berdiameter 14-16 km di Utara dan deretan pegunungan di Selatan. Kompleks Ijen bermula akibat adanya proses vulkanik Quartenary dan erupsi pada gunung Ijen Tua. Di bagian dalam kaldera, topografi didominasi oleh banyak kerucut vulkanik. Dominasi batuan di kaldera Ijen yaitu batuan Ijen tua di utara dan batuan Ijen muda di kaldera internal. Batuan Ijen tua terdiri dari breksi, lava, dan basalt-tuf, sedangkan batuan Ijen muda terdiri dari tuf, breksi, dan lava. Terbentuknya Kaldera Ijen diikuti oleh terbentuknya danau purba Blawan, dengan diameter lebih dari 5 km, yang pernah ada di dalam Kaldera Ijen. Danau ini meninggalkan jejak lapisan sedimen klastik yang cukup tebal. Endapan danau ini terdapat di tebing bukit dan dataran luas yang sebagian tererosi oleh aliran sungai yang berada di wilayah ini dan tersesarkan oleh sebuah sesar. Beberapa lokasi kemiringan lapisan ini terganggu oleh patahan yang terbentuk setelah Danau Blawan kering. Daerah Blawan-Ijen adalah daerah berpotensi panasbumi. Potensi panasbumi di daerah ini ditandai dengan adanya sebaran mata air panas di bagian utara dengan suhu tidak lebih dari 50°C. Munculnya mata air panas di sekitar Blawan akibat terbentuknya patahan di Kaldera bagian utara yang dikenal dengan nama Patahan Blawan. Struktur geologi seperti patahan dan rekahan seringkali mempunyai ciri tertentu di permukaan Bumi seperti kelurusan dan patahan utama berasosiasi dengan suhu permukaan tanah yang tinggi di daerah potensi panasbumi. Data penginderaan jauh yang digunakan adalah citra Landsat 8 OLI path 117 row 66 pada 8 Mei 2015 dan DEM SRTM 2012. Kedua data tersebut adalah data sekunder yang diunduh di laman USGS. Data multispektral Landsat 8 yang digunakan adalah band 7, band 5, dan band 3 untuk delineasi otomatis kelurusan struktur dengan metode tresholding sedangkan data DEM SRTM digunakan untuk delineasi secara visual. Data yang digunakan untuk menentukan estimasi suhu permukaan tanah adalah citra Landsat 8 band infra merah thermal dan citra multispektral band 5 dan band 4. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut. Delineasi struktur patahan dilakukan dengan delineasi kelurusan struktur secara otomatis dengan metode tresholding kemudian dikaji secara visual hingga didapatkan struktur patahan pada fokus daerah penelitian. Analisis ketelitian hasil delineasi kelurusan struktur patahan masih terbatas secara kualitatif dengan cara tumpang tindih dan membandingkan arah kelurusan dominan kelurusan utama dengan patahan utama di peta geologi daerah penelitian. Suhu permukaan tanah pada daerah penelitian dihitung dengan metode semi empiris dimana emisivitas permukaan diperoleh berdasarkan klasifikasi nilai Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). Nilai NDVI sendiri diperoleh dengan algoritma berikut ini: NDVI = (ρ nir - ρ red) / (ρ nir + ρ red), dengan ρ nir dan ρ red adalah nilai reflektansi kanal 5 dan kanal 4. Nilai emisivitas tanah dikategorikan oleh Sobrino et al. dalam Qin et al. (2011) ke dalam tiga kelompok yaitu a) NDVI < NDVIs (0.2), nilai emisivitas tanahnya, εs, adalah 0.97, b) NDVI > NDVIv < 0.2, nilai emisivitas tanahnya, εs, adalah 0.95, dan c) NDVI > 0.2, nilai emisivitas tanahnya
Connected topics
Classification
USAID DEC