Jaminan Kesehatan sebagai solusi mengatasi hambatan akses dan biaya dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan ibu di Indonesia
Sign inHEALTH POLICY PLUS
Pada tahun 2015, secara global diperkirakan 275.288 wanita meninggal akibat kehamilan dan persalinan.
2019 · 6 pages

Abstract
Sebagian besar (99%) kematian ibu terjadi di negara-negara berkembang, termasuk di Indonesia dengan Angka Kematian Ibu (AKI) diperkirakan 305 per 100.000 kelahiran hidup. Upaya penurunan AKI memiliki banyak tantangan terutama keterlambatan dalam pemanfaatan pelayanan komplikasi kesehatan maternal. Keterlambatan menjangkau fasilitas kesehatan (faskes) dipengaruhi beberapa faktor yang terkait dengan ketersediaan dan aksesibilitas fasilitas kesehatan, termasuk distribusi faskes, waktu tempuh dan kondisi jalan menuju faskes, dan hambatan biaya dan sosial-ekonomi menjangkau dan menerima pelayanan komplikasi kesehatan maternal. Beberapa studi menunjukkan faktor jarak fisik ke faskes mempengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan maternal. Pemerintah Indonesia telah melaksanakan berbagai upaya dengan tujuan meningkatkan ketersediaan dan aksesibilitas pelayanan kesehatan ibu. Pada akhir 1980-an, Kementerian Kesehatan meluncurkan Program Pendidikan Bidan di Desa dengan menempatkan satu bidan di setiap desa. Program bidan di desa ini bertujuan untuk mendekatkan pelayanan kesehatan ibu kepada masyarakat. Untuk mengurangi hambatan biaya, pada tahun 2011, Kementerian Kesehatan meluncurkan program jaminan persalinan (Jampersal) yang memberikan pelayanan gratis untuk antenatal, persalinan, postnatal dan KB pasca-persalinan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hambatan akses dan pembiayaan dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan ibu di era JKN. Penelitian ini menggunakan data Indonesia Family Life Survey Fifth Wave (IFLS-5) tahun 2014-2015 serta data Potensi Desa (PODES) tahun 2014. Data IFLS-5 memberikan informasi tentang pemanfaatan pelayanan kesehatan ibu, hambatan pembiayaan dan karakteristik sosial demografi ibu. Sedangkan data PODES 2014 memberikan informasi tentang jarak dan kemudahan akses ke fasilitas kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu sudah melakukan pemeriksaan kehamilan, namun hanya separuhnya yang mencari layanan pasca persalinan. Persentase persalinan di rumah sakit menurun seiring semakin jauh jarak ke rumah sakit. Semakin jauh ke rumah sakit berhubungan signifikan dengan penurunan peluang melahirkan di rumah sakit. Ibu yang tinggal berjarak lebih jauh dari 10 km ke rumah sakit memiliki peluang 2,4 kali lebih rendah untuk melahirkan di rumah sakit dibandingkan dengan ibu yang tinggal kurang dari 5 km. Kepemilikan asuransi kesehatan berhubungan signifikan dengan peningkatan peluang persalinan di rumah sakit, namun itu tidak berhubungan dengan pemanfaatan ANC, PNC, dan persalinan di Puskesmas. Ibu dengan kuintil terkaya memiliki peluang lebih tinggi untuk memanfaatkan layanan kesehatan, kemungkinan persalinan 1,8 kali lebih tinggi di rumah sakit dibandingkan dengan kuintil termiskin. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hambatan akses dan pembiayaan berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan ibu. Semakin jauh jarak ke rumah sakit berhubungan dengan semakin rendahnya peluang persalinan di faskes, baik di rumah sakit maupun Puskesmas. Selain itu, semakin sulit aksesibilitas ke faskes berhubungan dengan semakin rendahnya pemanfaatan pelayanan kesehatan ibu.
Connected topics
Classification
USAID DEC