Sains untuk Konservasi: Menghubungkan Sains dengan Upaya Konservasi di Bentang Laut Kepala Burung
Sign inWORLD WILDLIFE FUND INTERNATIONAL
Sains untuk Konservasi: Menghubungkan Sains dengan Upaya Konservasi di Bentang Laut Kepala Burung Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) Papua, Indonesia, merupakan salah satu pusat keragaman hayati dunia.
2018 · 201 pages

Abstract
Wilayah perairan BLKB merupakan habitat penting bagi penyu dan cetaceans, dan kekayaan sumberdaya laut ini mendukung penghidupan dan ketahanan pangan bagi kurang lebih 350.000 masyarakat pesisir. Sektor perikanan tangkap menjadi sumber penghasilan utama bagi sepertiga dari rumah tangga dan merupakan sumber protein utama bagi sekitar 75% rumah tangga. Sejak tahun 2010, WWF-US dan UNIPA telah mengembangkan sistem pemantauan kesejahteraan masyarakat dan tata kelola sumberdaya perairan di dua KKP di wilayah BLKB. Dengan dukungan WWF dan David and Lucile Packard Foundation, monitoring sosial telah diperluas ke enam KKP di wilayah BLKB. Pembelajaran dari program monitoring yang dilakukan melalui kerjasama antara konsorsium BLKB, UNIPA, dan WWF US selama periode 2010-2014 telah memberikan sumbangan pemikiran bagi pengelolaan adaptif dan pembelajaran global yang unik melalui informasi dampak jangka pendek pengelolaan KKP di BLKB. Upaya monitoring ekologi dan sosial dilanjutkan pada fase IV dari pendanaan WFF di wilayah BLKB. Kegiatan monitoring ekologi dan sosial selama periode 2014-2017 dilakukan dengan mengimplementasikan sistem monitoring yang efisien yang mengarah pada sistem siklus penuh monitoring dan evaluasi. Siklus lengkap monitoring dan evaluasi mengarahkan upaya monitoring yang mendukung pengelolaan yang adaptif. Dengan sistem ini, upaya monitoring tidak saja berhenti pada pengumpulan, analisis, dan interpretasi data, tetapi bagaimana informasi ini kemudian disampaikan kepada pemangku kebijakan sebagai referensi dalam pengambilan keputusan. Pengelolaan wilayah KKP di BLKB terus mengalami perubahan seiring dengan dampak perubahan lingkungan ekologi dan dinamika kehidupan masyarakat yang berinteraksi di dalamnya. Tekanan terhadap ekosistem di wilayah BLKB yang berasal dari ulah manusia maupun dari fenomena perubahan iklim dunia menuntut pengelolaan yang dinamis. Dukungan data kondisi ekologi dan sosial yang terkini dan dapat dipertanggungjawabkan diperlukan sebagai referensi yang mutlak diperlukan dalam pengelolaan KKP yang dinamis. Sains untuk Konservasi: Menghubungkan Sains dengan Inovasi untuk Upaya Konservasi Penyu Belimbing yang Holistik di BLKB Setiap tahunnya 75% aktivitas peneluran penyu belimbing di Pasifik Barat berpusat di pantai Jeen Yessa dan Jeen Syuab di Distrik Abun, Kabupaten Tambrauw. Walau lebih besar dari populasi penyu belimbing di Papua Nugini dan Kepulauan Solomon, jumlah sarang di Abun telah menurun 60-80% sejak tahun 1980an. Pengambilan penyu dan telurnya yang berlangsung dalam skala besar pada tahun 1970an hingga 1990an berkontribusi dalam penurunan jumlah penyu dan sarang. Walau kini pengambilan penyu dalam skala besar tidak lagi terjadi di Abun, sukses penetasan yang rendah menjadi kendala dalam regenerasi populasi penyu belimbing. Penelitian-penelitian yang dilakukan UNIPA mengidentifikasi predator, suhu pasir yang tinggi, erosi, penggenangan oleh air pasang, dan akar Ipomoea sp sebagai ancaman utama terhadap sarang penyu. Oleh karena itu, upaya konservasi di pantai peneluran berfokus untuk melindungi sarang-sarang dari ancaman-ancaman tersebut dengan metode yang sudah dikaji secara ilmiah. Metode perlindungan yang dilakukan berupa pemagaran sarang in situ untuk mencegah predator untuk mengakses sarang, menaungi sarang untuk merendahkan suhu sarang, merelokasi sarang yang terancam erosi atau
Connected topics
Classification
USAID DEC