USAID DEC
Kemitraan Konservasi di 12 Taman Nasional merupakan salah satu kegiatan dari Program "Menumbuhkan Paradigma Kemitraan Konservasi untuk Mendukung Implementasi Perdirjen KSDAE tentang Kemitraan Konservasi."
2019 · 120 pages

Abstract
Kegiatan ini dilakukan untuk melengkapi informasi dari kegiatan indepth interview dan FGD yang telah dilakukan sebelumnya. Kegiatan ini didukung oleh USAID-BIJAK dan dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan Mei 2019. Studi literatur ini bertujuan untuk mendokumentasikan pembelajaran Kemitraan Konservasi di 6 Taman Nasional. Hasil studi literatur menunjukkan bahwa kebijakan Kemitraan Konservasi telah mendorong terjadinya perubahan paradigma dalam pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia. Perubahan ini terjadi baik pada paradigma konservasi, cara memandang masyarakat, cara kerja, dan cara memberi respon terhadap masalah yang dihadapi. Dari hasil kajian ditemukan ada enam faktor pendukung implementasi Kemitraan Konservasi, yaitu: (a) kepemimpinan, (b) komunikasi, (c) perubahan cara kerja dari Balai Taman Nasional, (d) menemukan dan bekerja bersama local champion, (e) dukungan publik dan stakeholder, dan (f) meningkatnya kesadaran masyarakat lokal terhadap konservasi. Di samping itu, ada empat faktor penghambat implementasi Kemitraan Konservasi, yaitu: (a) kurang dukungan bagi lembaga kolaborasi multi-pihak, (b) perbedaan kepentingan, (c) manfaat kemitraan konservasi belum bisa dirasakan, dan (d) dinamika masyarakat lokal. Agar implementasi Kemitraan Konservasi dapat terus berjalan dan berkembang, maka ada lima kondisi pemungkin (enabling condition) yang harus tetap ada, yaitu: (a) political will dari Dirjen KSDAE, (b) menghargai proses, (c) memperjelas isi Perdirjen No. 6 tahun 2018, (d) membuat manfaat dari Kemitraan Konservasi bisa dilihat dan dirasakan, serta (e) mengembangkan organisasi pembelajar. Implementasi Kemitraan Konservasi telah dilakukan di 12 Taman Nasional, yaitu TN Gunung Leuser, TN Bogani Nani Wartabone, TN Komodo, TN Karimunjawa, TN Kayan Mentarang, TN Bantimurung Bulusaraung, TN Kelimutu, TN Gunung Ciremai, TN Sebangau, TN Gunung Halimun Salak, TN Meru Betiri, dan TN Gunung Tambora. Hasil implementasi menunjukkan bahwa Kemitraan Konservasi telah berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat lokal terhadap konservasi dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan kawasan konservasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi Kemitraan Konservasi antara lain adalah faktor penghambat, yaitu kurang dukungan bagi lembaga kolaborasi multi-pihak, perbedaan kepentingan, manfaat kemitraan konservasi belum bisa dirasakan, dan dinamika masyarakat lokal. Faktor pendukung antara lain adalah kepemimpinan, komunikasi, perubahan cara kerja dari Balai Taman Nasional, menemukan dan bekerja bersama local champion, dukungan publik dan stakeholder, dan meningkatnya kesadaran masyarakat lokal terhadap konservasi. Dalam rangka meningkatkan implementasi Kemitraan Konservasi, maka perlu dilakukan beberapa hal, yaitu: (a) meningkatkan kesadaran masyarakat lokal terhadap konservasi, (b) meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan kawasan konservasi, (c) meningkatkan dukungan bagi lembaga kolaborasi multi-pihak, (d) meningkatkan komunikasi antara Balai Taman Nasional dan masyarakat lokal, dan (e) meningkatkan perubahan cara kerja dari Balai Taman Nasional.
Connected topics
Classification