Laporan Status Ekologi Kawasan Konservasi Kepulauan Ayau-Asia, Raja Ampat Tahun 2021
Sign inCONSERVATION INTERNATIONAL FOUNDATION
Kepulauan Raja Ampat meliputi 4 juta hektar laut dan daratan yang terletak di Papua Barat, Indonesia, tepat di jantung Segitiga Karang dunia.
2021 · 18 pages

Abstract
Kepulauan Raja Ampat adalah bagian dari Bentang Laut Kepala Burung, yang memiliki keanekaragaman hayati terumbu karang terbesar di planet ini. Survei telah menunjukkan bahwa perairan Raja Ampat adalah rumah bagi 574 spesies karang, atau 75% spesies karang keras yang dikenal di dunia, 699 spesies moluska, dan 1.437 spesies ikan. Terumbu karang sangat penting bagi masyarakat setempat karena mereka mendukung perikanan dan sumber daya invertebrata. Seperti banyak orang di wilayah pesisir Indonesia, masyarakat di Raja Ampat bergantung pada terumbu karang mereka sebagai sumber makanan dan pendapatan melalui perikanan dan pariwisata. Namun, kesehatan karang dan perikanan yang terkait di Indonesia, termasuk di Raja Ampat, terancam oleh penggunaan metode penangkapan ikan yang merusak seperti peledak dan racun, dan penangkapan ikan berlebihan. Peningkatan suhu permukaan air yang terkait dengan perubahan iklim juga merupakan ancaman bagi ekosistem terumbu karang. Sebagai pengakuan atas nilai-nilai konservasi terumbu karang dan peranan pentingnya untuk mempertahankan mata pencaharian penduduk setempat, jaringan tujuh kawasan konservasi perairan (KKP) yang mencakup lebih dari 1 juta ha didirikan di Raja Ampat. Lima dari tujuh KKP dideklarasikan pada tahun 2007 oleh Keputusan Bupati Raja Ampat (No. 66/2007), dan diformalkan oleh Peraturan Kabupaten (No. 27/2008). Monitoring kesehatan karang dilaksanakan dengan tujuan untuk mengumpulkan data terkini mengenai kondisi Kesehatan karang di KKPD Kepulauan Ayau-Asia. Data ini sebagai dasar pertimbangan dalam pengelolaan, menilai efektivitas pengelolaan dan mendukung pengelolaan yang adaptif. Metode pemantauan menggunakan protokol yang dikembangkan oleh Green dan Wilson (2009) dan dimodifikasi oleh Ahmadia et al (2012). Kesehatan karang diukur dari kondisi ikan dan tutupan karang. Pada tahun 2021, kegiatan monitoring dilakukan pada tanggal 24 - 26 April 2021 di 19 titik monitoring (8 titik termasuk dalam Zona Larang Tangkap dan 8 titik masuk dalam Zona Pemanfaatan). Khusus untuk analisis data karang menggunakan 9 titik monitoring, tetapi untuk analisis data ikan menggunakan 16 titik. Tim pemantauan terdiri dari berbagai instansi yaitu Universitas Papua melalui Lembaga penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), UPTD DKP BLUD Raja-Ampat, Yayasan Konservasi Alam Nusantara, Conservation International, Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih, dan Fakultas Perikanan dan Keluatan Universitas Papua. Ringkasan Hasil Monitoring tahun 2021 menunjukkan bahwa kondisi karang secara umum sehat dan tidak ditemukan penyakit karang. Bentuk pertumbuhan karang didominasi oleh karang keras seperti karang menjalar, karang masif dan juga karang bercabang. Ditemukan juga karang lunak di setiap titik penyelaman dan juga makro algae jenis Halimeda, namun hanya di beberapa titik penyelaman saja. Beberapa temuan yang perlu mendapat perhatian adalah ditemukan karang dalam kondisi memutih baik karang keras, karang lunak maupun anemone walaupun dalam persentase yang kecil (<5%) pada hampir semua titik penyelaman. Selain itu, ditemukan patahan karang akibat bom, baik bom lama maupun bekas bom baru. Bom baru ditemukan di 2 tempat di lokasi A20 (South East Mof Island). Beberapa
Connected topics
Classification
USAID DEC