Laporan Status Ekologi Kawasan Konservasi Perairan Teluk Mayalibit, Raja Ampat Tahun 2021
Sign inCONSERVATION INTERNATIONAL FOUNDATION
Kepulauan Raja Ampat meliputi wilayah darat dan laut seluas sekitar 4 juta hektar yang terletak di Papua Barat, Indonesia, tepat di jantung Segitiga Karang Dunia.
2021 · 18 pages

Abstract
Kepulauan Raja Ampat adalah bagian dari Bentang Laut Kepala Burung, yang memiliki keanekaragaman hayati terumbu karang terbesar di dunia dan merupakan prioritas global untuk konservasi perairan. Di Raja Ampat diidentifikasi terdapat 574 spesies karang, atau 75% spesies karang keras yang dikenal di dunia, 699 spesies moluska, dan 1.437 spesies ikan. Terumbu karang mempunyai peranan penting bagi masyarakat Raja Ampat karena mendukung sumber daya perikanan termasuk keberadaan invertebrata, seperti teripang dan lola yang sangat penting bagi masyarakat. Masyarakat Raja Ampat bergantung pada terumbu karang sebagai sumber makanan dan pendapatan melalui perikanan dan pariwisata. Namun, kondisi kesehatan karang dan perikanan di Indonesia, termasuk di Raja Ampat, terancam oleh penggunaan metode penangkapan ikan yang merusak seperti penggunaan bom, bius, dan penangkapan ikan berlebihan. KKPD Teluk Mayalibit terletak di Pulau Waigeo bagian selatan berdekatan dengan Waisai ibukota Kabupaten Raja Ampat dan Kota Sorong. Kawasan ini seluas 53.100 hektar dan secara administrasi mencakup 2 wilayah kecamatan dan 10 kampung. Wilayah perairan meliputi teluk yang relatif tertutup dan pesisir Pulau Waigeo bagian selatan, termasuk beberapa gugusan taka atau rep (patch reef) di depan 'channel' atau mulut teluk. Monitoring dilakukan pada tanggal 21-23 Maret 2021 di 13 lokasi, terdiri dari 7 lokasi di Zona Larang Tangkap dan 6 lokasi di Zona Pemanfaatan. Khusus untuk analisis data karang, data yang digunakan berasal dari 13 lokasi dan untuk analisis data ikan menggunakan 12 lokasi. Tim monitoring berasal dari berbagai institusi, yaitu LPPM Universitas Papua, UPTD BLUD KKPD Raja Ampat, CI Raja Ampat, Yayasan Konservasi Alam Nusantara, RARE Indonesia, Balai Taman Nasional Teluk Cenderawasih dan mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Papua. Rata-rata tutupan karang keras hidup (Hard Coral Live/HCL) di KKPD Teluk Mayalibit pada tahun 2021 sebesar 20,6%, relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan tutupan di BLKB pada tahun 2017-2019 (33,5%). Rata-rata tutupan karang keras hidup di KKPD Teluk Mayalibit cenderung stabil. Namun demikian, tim monitoring banyak melihat sampah pada saat pemantauan. Beberapa jenis sampah yang ditemukan mengapung maupun tenggelam di dasar perairan seperti ban mobil, ember, botol minum kemasan. Kondisi ikan yang diamati terbagi menjadi dua kelompok besar yaitu kelompok ikan herbivora yang mempunyai fungsi penting bagi ekosistem dan kelompok ikan target atau karnivora yang merupakan target tangkapan nelayan sehingga memiliki nilai perikanan penting. Kedua kelompok tersebut memiliki kondisi biomassa yang berbeda-beda, namun kedua kelompok ikan tersebut masih tergolong stabil. Adanya pengelolaan perikanan adat yang lebih baik dapat berakibat baik pula pada kondisi karang dan ikan di wilayah ini. Tutupan HCL yang lebih dari 35% hanya terdapat pada 3 lokasi, yaitu di lokasi Irwor Khasab (M5) dan depan Kampung Yensner (M3) yang masuk dalam zona larang tangkap dan Irworikwan (M14) yang berada pada zona pemanfaatan. Delapan lokasi memiliki kondisi tutupan HCL dengan nilai
Connected topics
Classification
USAID DEC