Laporan Status Ekologi Kawasan Konservasi Perairan Selat Dampier, Raja Ampat Tahun 2018
Sign inCONSERVATION INTERNATIONAL FOUNDATION
Kepulauan Raja Ampat meliputi sekitar 4 juta hektar lautan dan daratan yang terletak di Papua Barat, Indonesia, tepat di jantung Segitiga Karang.
2018 · 16 pages

Abstract
Kepulauan Raja Ampat adalah bagian dari Bentang Laut Kepala Burung, yang memiliki keanekaragaman hayati terumbu karang terbesar di planet ini. Survei telah menunjukkan bahwa perairan Raja Ampat terdapat 574 spesies karang, atau 75% spesies karang keras yang dikenal di dunia, 699 spesies moluska, dan 1.437 spesies ikan. Terumbu karang sangat penting bagi masyarakat karena mendukung kondisi perikanan, termasuk keberadaan invertebrata seperti teripang dan lola yang sangat penting bagi masyarakat. Masyarakat di Raja Ampat bergantung pada terumbu karang sebagai sumber makanan dan pendapatan melalui perikanan dan pariwisata. Namun, kondisi kesehatan karang dan perikanan di Indonesia, termasuk di Raja Ampat, terancam oleh penggunaan metode penangkapan ikan yang merusak seperti penggunaan bom, bius, dan penangkapan ikan berlebihan. Sebagai pengakuan atas nilai-nilai konservasi terumbu karang dan pentingnya untuk mempertahankan mata pencaharian penduduk setempat, jaringan tujuh kawasan konservasi perairan (KKP) yang mencakup lebih dari 1 juta hektar didirikan di Raja Ampat. Lima dari tujuh KKP termasuk KKP Selat Dampier dideklarasikan pada tahun 2007 oleh Keputusan Bupati Raja Ampat (No. 66/2007), dan diformalkan oleh Peraturan Kabupaten (No. 27/2008). KKP Selat Dampier terletak di sebelah selatan pulau Waigeo dan mencakup sebagian besar perairan yang mengelilingi Pulau Batanta dan pesisir barat Pulau Salawati. Kawasan ini mencakup 120 pulau dan 29 kampung. Lokasi Selat Dampier berdekatan dengan wilayah pelabuhan Kota Sorong yang ramai, menjadikan kawasan tersebut dengan pemanfaatan terpadat di Raja Ampat. Monitoring kesehatan karang di KKP Selat Dampier dilakukan pada tahun 2018 dengan menggunakan protokol yang dikembangkan oleh Green dan Wilson (2009) dan dimodifikasi oleh Ahmadia et al (2012). Kesehatan karang diukur dari kondisi ikan dan tutupan karang. Kondisi ikan diukur dengan metode Underwater Visual Census dan tutupan karang diukur dengan metode Point Intercept Transect. Jumlah titik (site) yang dimonitor setiap tahun bervariasi dari 26 - 38 situs tergantung pada berbagai faktor dan tujuan khusus pada saat monitoring. Hasil monitoring kesehatan karang tahun 2018 menunjukkan bahwa secara umum terumbu karang di KKPD Selat Dampier dalam kondisi sehat dengan indikasi tidak ditemukan coral bleaching atau pemutihan karang secara massal akibat kenaikan suhu air laut. Komunitas ikan secara umum menunjukkan dalam kondisi yang sehat dan seimbang populasi dan rantai makanan. Ikan Hiu hampir ditemukan di setiap penyelaman, beberapa lokasi ditemukan lebih dari 10 ekor dalam sekali penyelaman. Rata-rata tutupan Karang Keras Hidup (HCL) sebesar 29,6% dan tutupan HCL tertinggi sebesar 85% di lokasi monitoring South Batanta (D037) dan terendah sebesar 6,3% di Northwest Senapan Island (D027). Terdapat 13 lokasi monitoring yang tutupan HCL nya kurang dari 25%, 15 lokasi antara 25 – 50% dan hanya 4 lokasi lebih dari 50%.
Connected topics
Classification
USAID DEC